×
×
Sabtu, 23 Oktober 2021
OBS 2019
loading content

Turun 0,6 Persen, BI: Utang Luar Negeri Terkendali

Jumat, 16 Juli 2021, 15:10 WIB
Penulis: Maryono
Editor: Jimmy Radjah

Turun 0,6 Persen, BI: Utang Luar Negeri Terkendali

Ilustrasi. (republika.co.id).

Infoanggaran.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2021 mengalami penurunan 0,6 persen dari bulan sebelumnya sebesar 417,6 miliar dolar AS menjadi sebesar 415 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, penurunan jumlah utang sebesar 2,6 miliar dolar AS itu membuktikan ULN Indonesia pada Mei 2021 tetap terkendali.

"Tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga di kisaran 37,6 persen menurun dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 37,9 persen," ujar Erwin melalui keterangan tertulis, Jumat (16/7/2021).

Erwin menjelaskan, struktur ULN Indonesia juga tetap sehat. Hal ini ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 88,5 persen dari total ULN.

Menurut dia, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN yang didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tambah dia.

 

Didorong ULN Pemerintah

Erwin melanjutkan, penurunan ULN Indonesia didorong oleh penurunan ULN pemerintah yang mencapai 1,3 persen dari April 2021 menjadi sebesar 203,4 miliar dolar AS pada Mei 2021.

"Penurunan posisi ULN Pemerintah tersebut terjadi seiring dengan pembayaran Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman dalam valuta asing yang jatuh tempo di Mei 2021," terang dia.

Pemerintah berkomitmen tetap menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel.

Erwin mengatakan, penarikan ULN pada periode Mei 2021 juga tetap diutamakan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah, termasuk upaya penanganan Covid-19 dan program pemulihan rkonomi nasional.

Belanja prioritas itu antara lai sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 17,8 persen dari total ULN Pemerintah. Lalu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 17,2 persen, sektor jasa pendidikan 16,3 persen, sektor konstruksi 15,4 persen, dan sektor jasa keuangan dan asuransi 12,6 persen.

Sementara itu, ULN swasta mengalami pertumbuhan 0,5 persen menjadi 208,7 miliar dolar AS per Mei 2021. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,4 persen (year on year/yoy).

Menurut Erwin, kondisi itu akibat perlambatan pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan menjadi 2,3 persen (yoy) dari 4,5 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Begitu juga dengan pertumbuhan ULN lembaga keuangan yang berkurang menjadi sebesar 6,0 persen (yoy), di mana April 2021 mencapai 9,0 persen (yoy).

Dengan perkembangan tersebut, kata Erwun, posisi ULN swasta "relatif stabil dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya."

Tagar. #utang pemerintah #utang #bank indonesia #ULN

Artikel Lainnya

Jumat, 22 Oktober 2021, 14:42 WIB

ICJR: Reformasi Peradilan Pidana Stagnan, Respons Pemerintah Minim

Substansi RKUHP masih berpotensi menghadirkan overkriminalisasi dengan adanya sejumlah pasal karet.

selengkapnya
ICJR: Reformasi Peradilan Pidana Stagnan, Respons Pemerintah Minim
Proyek Kereta Cepat Tidak Boleh Pakai SiLPA APBN

Kamis, 21 Oktober 2021, 16:28 WIB

Proyek Kereta Cepat Tidak Boleh Pakai SiLPA APBN
Hadapi Ancaman Katastropik, APBN Bisa 'Lumpuh'

Selasa, 19 Oktober 2021, 19:56 WIB

Hadapi Ancaman Katastropik, APBN Bisa 'Lumpuh'
DBH-DAU Tak Lagi Wajib Dialokasikan untuk Covid-19

Selasa, 19 Oktober 2021, 11:24 WIB

DBH-DAU Tak Lagi Wajib Dialokasikan untuk Covid-19