×
Kamis, 24 September 2020
loading content

Survei: 62,5 Persen Penderita Covid-19 adalah Perokok

Selasa, 15 September 2020, 17:13 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

Survei: 62,5 Persen Penderita Covid-19 adalah Perokok

Ilustrasi Rokok dan Covid-19 (Foto: Tribun News)

Infoanggaran.com, Jakarta – Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menyatakan sebanyak 62,5 penderita Covid-19 adalah perokok sedangkan sisanya 37,5 tidak merokok. Hal ini berdasarkan data penelitian dari beberapa survei yang telah dilakukan.

“Telah banyak kajian ilmiah yang membuktikan bahwa perilaku atau kebiasaan merokok membuat perokok lebih mudah terinfeksi Covid-19 dan juga memperparah komorbid (penyakit bawaan) pada pasien,” jelas Agus.

Selain itu, Agus juga membeberkan fakta bahwa penderita Covid-19 yang merokok secara aktif memiliki risiko kematian 1,5 hingga 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak merokok.

Untuk itu, Agus meminta pemerintah agar penanganan Covid-19 seharusnya memperhitungkan hal ini agar penanganan lebih efektif. Apalagi di negara yang jumlah perokoknya begitu besar seperti Indonesia.

Untuk diketahui, sekitar 75 juta orang atau sekitar 33 persen dari jumlah penduduk Indonesia menjadi perokok aktif. Sedangkan 75 persen dari total penduduk Indonesia menjadi perokok pasif dalam kegiatan sehari-harinya di dalam ruangan tertutup, termasuk di rumah. Angka ini adalah yang ketiga tertinggi di dunia.

Senada, Direktur Mitigasi Bencana Johny Sumbung mengamini bahwa pandemi Covid-19 makin diperparah dengan perilaku merokok di masyarakat.

“Belum selesai satu urusan, muncul urusan lain. Karena itu, diperlukan kampanye untuk tidak merokok atau setidaknya mengurangi angka perokok,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, dari sisi pemerintah Direktur Jendral Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Hari Nurcahya Murni mengatakan, pencegahan penyebaran Covid-19 yang lebih parah dan menekan angka perokok harus dilakukan di tingkat daerah.

“Karena locus-nya ada di daerah. Sejak 2019 pemerintah sudah menyiapkan program untuk edukasi hidup sehat, salah satunya tidak merokok. Beberapa kali kami menyampaikan dalam program perilaku hidup sehat,” tegasnya.

 

Tidak Percaya

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) Krisna Puji Rahmayanti membeberkan hasil penelitiannya bahwa adanya pandemi Covid-19 ternyata tidak berpengaruh terhadap penurunan jumlah perokok di Indonesia.

Hal itu lantaran masih banyak masyarakat yang tidak percaya bahwa merokok secara aktif bisa meningkatkan risiko terkena Covid-19.

“Sebagian besar (64 persen) responden percaya bahwa perokok lebih rentan terkena Covid-19. Namun, masih ada yang tidak percaya, yaitu mereka yang masih menjadi perokok aktif sebesar 63,6 persen,” kata Krisna.

Hasil survei juga menunjukkan, dari sisi belanja rokok, dengan melihat jumlah biaya beli rokok, mayoritas (49,8 persen) responden yang merokok mengaku memiliki pengeluaran tetap untuk membeli rokok selama masa pandemi. Bahkan, jumlah itu meningkat sebanyak 13,1 persen.

Lebih lanjut Krisna merinci, 77,14 persen responden berasal dari kalangan dengan penghasilan lebih dari Rp5 juta, 9,8 persen responden lainnya berpenghasilan di bawah Rp2 juta. Sedangkan sisanya 17,8 persen berpenghasilan antara Rp2-5 juta.

Sementara berdasarkan jumlah batang rokok yang dikonsumsi, 50,2 persen responden mengaku tetap mengkonsumsi jumlah rokok yang sama. Bahkan 15,2 persen di antaranya mengaku mengalami jumlah peningkatan konsumsi rokok selama masa pandemi.

Survei itu dilakukan terhadap 612 responden dari seluruh wilayah Indonesia pada rentang waktu 15 Mei-15 Juni 2020.

“Ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu lebih kuat menerapkan kebijakan fiskal maupun non fiskal agar masyarakat dapat berhenti merokok,” jelas Krisna.

Tagar. #cukai rokok #perokok #pengendalian tembakau #penderita covid-19 #pencegahan Covid-19

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Kamis, 24 September 2020, 15:04 WIB

Per Agustus 2020, Utang Pemerintah Rp5.594 Triliun

Kenaikan utang itu disebabkan oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan untuk menangani masalah kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19.

selengkapnya
Per Agustus 2020, Utang Pemerintah Rp5.594 Triliun
Anggaran Kemenag 2021 Naik Rp287,8 Miliar

Rabu, 23 September 2020, 15:43 WIB

Anggaran Kemenag 2021 Naik Rp287,8 Miliar