×
×
Selasa, 18 Januari 2022
OBS 2019
loading content

Penny Mengaku Korupsi Karena Honornya Tidak Mencukupi

Rabu, 11 Agustus 2021, 12:46 WIB
Penulis: Maryono
Editor: Jimmy Radjah

Penny Mengaku Korupsi Karena Honornya Tidak Mencukupi

Polres Malang merilis tersangka Penny Tri Herdian. (rilis.id).

Infoanggaran.com, Jakarta – Penny Tri Herdian, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Malang, mengaku melakukan korupsi dana bantuan sosial sejak 2017 hingga 2020 lantaran honor pendamping tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Penny juga mengaku bahwa uang hasil korupsi digunakan untuk pengobatan ayahnya yang sedang sakit. "Obat orang tua juga lumayan mahal," kata dia, dikutip dari Surya.co.id pada Rabu (11/8/2021).

Selain itu, Penny mengutil dana bansos juga untuk membeli kebutuhan pribadi seperti motor, kulkas, TV, laptop, keyboard, dan AC.

"Kalau beli motor ini memang untuk mobilitas. Elektronik ya buat di rumah. Sementara lainnya untuk biaya hidup,” jelas dia.

Berdasarkan pelusuran infoanggaran.com dari berbagai sumber, Kemensos menganggarkan Rp3,1 juta per bulan untuk honor pendamping PKH. Dalam praktiknya, honor pendamping PKH bervariasi antara Rp3 juta -Rp3,4 juta tergantung daerah maaing-masimg.

Di luar itu, pendamping PKH mendapat tambahan insentif Rp300 ribu - Rp400 ribu per tiga bulan untuk biaya operasional. Di masa pandemi Covid-19 ini, insentif tersebut diberikan untuk membeli kuota internet 

Minggu (8/8/2021) lalu, Polres Malang menetapkan Penny sebagai tersangka kasus korupsi dana bansos sebesar Rp450 juta. Korupsi ini dilakukan selama tiga tahun sejak 2017 hingga 2020.

Berdasarkan hasil penyidikan Satreskrim Polres Malang, Penny menyalahgunakan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) milik 37 keluarga penerima manfaat. Dia juga menahan 16 KKS dan tak pernah menyerahkan dana tersebut kepada yang berhak.

Selain itu, ada 17 KKS yang orangnya sudah tak ada di tempat. Penny juga memotong sebagian dana yang seharusnya diterima oleh penerima manfaat.

Tersangka Penny dijerat Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 subsider Pasal 8 UU Nomor 20 Tahun 2001 atas perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Dia terancam hukuman penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

Saat ini, perempuan berusia 28 tahun ini telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polres Malang.

 

Tidak Ada Alasan

Kasus korupsi yang dilakukan Penny mendapat perhatian Menteri Sosial Tri Rismaharini. Risma mengatakan, tidak ada alasan bagi pendamping PKH untuk memotong bantuan yang harus disalurkan.

"Pendamping kan sudah mendapatkan honor. Jadi tidak ada alasan apapun memotong bantuan untuk orang tidak mampu," kata Risma, baru-baru ini.

Risma menegaskan, penetapan tersangka terhadap Penny harus menjadi pelajaran bagi semua pendamping PKH.  Dia lalu menekankan bahwa pendamping PKH harus benar-benar jujur dalam menjalankan tugasnya.

"Jangan main-main dengan tugas dan amanat yang sudah diberikan,” imbuh dia.

Risma menyatakan, bantuan sosial itu diberikan guna membantu masyarakat miskin. “Bantuan itu diberikan untuk masyarakat miskin yang beban hidupnya berat, apalagi di masa pandemi. Jangan lagi dikurangi dengan cara melanggar hukum," imbuh dia.

Tagar. #Korupsi Dana Bansos #Pendamping Sosial #Tri Rismaharini #kemensos

Artikel Lainnya

Senin, 17 Januari 2022, 16:00 WIB

Korupsi Dana Desa, Eks Kades di Jabar Terancam 20 Tahun Penjara

AS diduga menyelewengkan Dana Desa dan ADPD sejak 2016 hingga 2028 dan merugikan negara hingga Rp800 juta lebih

selengkapnya
Korupsi Dana Desa, Eks Kades di Jabar Terancam 20 Tahun Penjara