×
×
Kamis, 23 September 2021
OBS 2019
loading content

Penerimaan Cukai Rokok Naik 21 Persen

Jumat, 23 Juli 2021, 18:01 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

Penerimaan Cukai Rokok Naik 21 Persen

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Infoanggaran.com, Jakarta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan, penerimaan cukai hingga semester I 2021 mencapai Rp91,3 triliun. Dari penerimaan cukai tersebut, realisasi penerimaan dari cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok mencapai Rp88,5 triliun atau tumbuh 21 persen dibanding periode sama tahun 2020.

“Peningkatan di tahun 2021 tersebut utamanya karena kenaikan tarif cukai dan sedikit kenaikan produksi sampai dengan bulan Juni, serta langkah pencegahan rokok illegal,” kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Kemenkeu Askolani pada Jumat (23/7/2021).

Menurut Askolani, penerimaan CHT per bulannya terus flukuatif. Namun, tetap tergantung pada pola pesanan pita cukai oleh pengusaha.

Selain itu, Askolani memprediksikan jika penerimaan cukai hasil tembakau sampai akhir tahun 2021 sesuai target, maka akan mencapai Rp173 triliun.

“Sedangkan untuk penerimaan CHT di 2022 mendatang masih akan masih di-review sampai dengan  penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022,” ujarnya.

 

Penyederhanaan Tarif

Sebelumnya, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Vid Adrison mengatakan penyederhanaan atau simplifikasi struktur tarif cukai hasil tembakau dapat meningkatkan penerimaan negara.

Ia menilai sistem tarif cukai hasil tembakau yang masih kompleks menjadi alasan pengenaan cukai menjadi tidak optimal dan penerimaan negara tidak maksimal. Sehingga, sistem cukai yang kompleks juga menyebabkan adanya praktik tax avoidance atau penghindaran pajak yang bersifat legal karena ada celah hukum yang dimanfaatkan.

Untuk itu, Vid merekomendasikan simplifikasi tarif cukai tembakau secara jelas dan konsisten mengingat peta jalan penyederhanaan yang sebelumnya telah dicanangkan pemerintah akhirnya dibatalkan.

Saat ini, pengenaan tarif cukai hasil tembakau dari satu jenis rokok masih tergantung pada empat komponen, yaitu golongan produksi, teknik produksi, jenis rokok, dan harga.

Sementara itu, Program Manager dari LSM The Prakarsa Herni Ramdlaningrum menyatakan, penyederhanaan struktur tarif cukai tembakau merupakan salah satu langkah tepat untuk pengendalian konsumsi tembakau.

"Menyederhanakan tarif itu menyederhanakan ketersediaan harga agar tidak terlalu banyak bagi konsumen," kata Herni.

Kemudian, Analis Kebijakan pada Pusat Kebijakan Pendapat Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febri Pangestu mengakui sistem cukai hasil tembakau yang kompleks memberikan alternatif kepada konsumen untuk beralih pada rokok yang lebih murah.

"Membagi berbagai kriteria (layer sistem cukai), mungkin hanya Indonesia saja yang melakukan di seluruh dunia. Negara lain tidak ada. WHO juga sering menyinggung. Dan terkait penghindaran pajak, Kemenkeu berusaha memperhatikan impact di industrinya supaya tidak menimbulkan gejolak," katanya.

Kendati demikian, dia mengakui belum dapat memastikan proses penyederhanaan tarif cukai hasil tembakau dapat dilakukan.

Tagar. #cukai #kemenkeu #cukai rokok #kenaikan cukai rokok

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Rabu, 22 September 2021, 23:03 WIB

Komisi XI DPR Ragu Core Tax System Efektif Dulang Pajak

Saat ini Kemenkeu sedang mematangkan pembuatan core tax system sebagai upaya dukungan peningkatan potensi penerimaan negara.

selengkapnya
Komisi XI DPR Ragu Core Tax System Efektif Dulang Pajak