×
×
Senin, 01 Maret 2021
OBS 2019
loading content

Pemerintah Tarik Utang Rp7,05 Triliun dari Bank Dunia

Jumat, 22 Januari 2021, 19:03 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

Pemerintah Tarik Utang Rp7,05 Triliun dari Bank Dunia

Ilustrasi Utang (Foto: Istimewa)

Infoanggaran.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia secara resmi mendapatkan utang dari Bank Dunia sebesar USD500 juta atau setara dengan Rp7,05 triliun (kurs Rp14.100 per USD).

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen menyatakan, utang tersebut bertujuan memperkuat ketahanan finansial dan fiskal Indonesia terhadap risiko bencana alam, perubahan iklim, dan risiko yang berasal dari sektor kesehatan.

"Guncangan dan bencana seperti itu terus menerus menjadi ancaman bagi kemajuan pembangunan Indonesia," kata Kahoken dalam keterangan resminya, Jumat (22/1/2020).

Berdasarkan hitungan, kata Kahoken, pemerintah Indonesia sudah membelanjakan anggaran sekitar USD90 juta - USD500 juta per tahun untuk tanggap bencana dan pemulihan. Sementara dalam periode yang sama, pemerintah daerah diperkirakan telah mengeluarkan USD250 juta.

“Di masa pandemi ini, kami perkirakan biaya penanganan bencana akan meningkat terus, karena itu perlu ada ketersediaan dana yang cukup,” jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan kesiapan finansial dalam menghadapi bencana, perubahan iklim, dan krisis kesehatan seperti Covid-19 semakin penting bagi Indonesia.

"Dukungan ini akan membantu pemerintah memberikan respons yang lebih tepat sasaran dan tepat waktu, mengurangi dampak bencana dan membantu melindungi kemajuan pembangunan Indonesia," jelasnya.

 

Utang Meningkat

Untuk diketahui, posisi utang pemerintah per akhir Desember 2020, mencapai Rp6.074,56 triliun. Angka tersebut naik hingga 27,1 persen atau Rp1.296 triliun dari periode akhir 2019 yang sebesar Rp4.778 triliun.

Menurut data APBN Kita, rasio utang pemerintah mencapai 38,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio utang ini jauh lebih besar dari akhir 2019 yang hanya 29,8 persen terhadap PDB.

Secara rinci, posisi utang per Desember 2020 itu terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp5.221,65 triliun dan pinjaman Rp852,91 triliun.

“Untuk SBN terdiri dari SBN domestik atau berdenominasi rupiah Rp4.025,62 triliun dan SBN valas Rp1.196,03 triliun,” tulis keterangan itu.

Sementara untuk pinjaman terdiri dari pinjaman dalam negeri Rp11,97 triliun dan pinjaman luar negeri Rp840,94 triliun.

Sementara data Pefindo menyebut, pada Januari 2021 surat utang jatuh tempo ada sebanyak Rp1,8 triliun.

“Ada sebanyak 12 seri surat utang yang jatuh tempo pada Januari 2021,” tulis keterangan itu.

Terdiri dari sembilan seri surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN), dua sukuk mudharabah dan satu obligasi.

Kemudian pada Februari 2021, Pefindo mencatat ada 17 seri surat utang yang akan jatuh tempo dengan nilai Rp10,64 triliun.

Sedangkan pada Maret 2021 terdapat Rp7,69 triliun yang jatuh tempo terdiri dari 20 seri surat utang.

Dengan demikian, dalam kuartal I 2021 atau periode Januari-Maret 2021 surat utang (obligasi) jatuh tempo mencapai Rp20,13 triliun.  

Tagar. #utang #utang luar negeri #bank dunia #surat utang negara

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Jumat, 26 Februari 2021, 20:25 WIB

Regulasi Perencanaan dan Keuangan Daerah Masih Bermasalah

Pendampingan dari Kemendagri terkait regulasi perencanaan dan keuangan daerah juga tidak maksimal.

selengkapnya
Regulasi Perencanaan dan Keuangan Daerah Masih Bermasalah
Program Vaksin Mandiri Resmi Dibuka, Ini Aturannya

Jumat, 26 Februari 2021, 19:16 WIB

Program Vaksin Mandiri Resmi Dibuka, Ini Aturannya