×
Kamis, 24 September 2020
loading content

Masyarakat Daerah Kaya SDA Cenderung Tidak Sejahtera

Jumat, 07 Agustus 2020, 20:42 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

Masyarakat Daerah Kaya SDA Cenderung Tidak Sejahtera

Ilustrasi (Foto: Boombastis.com)

Infoanggaran.com, Jakarta – Pemerhati sumber daya alam (SDA) Dr Hania Rahma mengungkapkan, ada kecenderungan bahwa daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA) justru tertinggal dari segi pembangunan sehingga masyarakatnya tidak sejahtera.

Dalam paparannya pada webinar “Resource Curse, Korupsi dan Tata Kelola SDA”, Kamis (6/8/2020), Hania merinci lima daerah dengan SDA melimpah di Indonesia, tapi justru memiliki indeks ketergantungan tinggi terhadap SDA juga. Ke-5 daerah itu adalah Kalimantan Timur (75,72), Papua Barat (50,86), Papua (31,88), Riau (21,50) dan juga Kepulauan Riau (16,82).

Lebih jelasnya, dapat dilihat pada table berikut:

 

Lebih jauh Hania memaparkan, daerah yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi pada SDA mempunyai indeks pembangunan berkelanjutan yang relatif rendah, bahkan tidak masuk dalam lima besar.

Menurut dia, ketergantungan yang besar terhadap SDA tidak menjamin suatu daerah mampu menciptakan kinerja pembangunan berkelanjutan yang tinggi.

Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Lebih lanjut Hania menerangkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, ternyata daerah yang memiliki indeks ketergantungan tinggi terhadap ESDM, kepala daerahnya yang berstatus koruptor -- termasuk juga aparatur sipil negaranya -- juga tinggi.

Hal ini yang menurut Hania menjadi penyebab rendahnya indeks pembangunan dan rendahnya tingkat kesejahteraan di beberapa daerah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah.

 

Salah Tata Kelola

Penyebab utama rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah dengan SDA tinggi adalah akibat salah tata kelola. Sebab, dari sisi indeks resource governance, sebenarnya Indonesia tidak terlalu buruk. Tetapi korupsi masih menjadi masalah paling besar di dalam dunia usaha di Indonesia. Padahal, tata kelola yang baik bisa mengurangi tingkat korupsi.

Selain dari sisi organisasi pemerintahan, Hania juga menyoroti dari sisi lingkungan hidup.

Menurut dia, akibat rusaknya alam, lingkungan dan masyarakat menjadi mengalami banyak kerugian, secara ekologi maupun ekonomi.

Hal ini secara tidak langsung turut menyumbang bagi ketertinggalan indeks pembangunan daerah.

Dia mencontohkan banyaknya bekas tambang yang tidak direklamasi di Kalimantan Timur. Lubang tambang yang tidak direklamasi, kata Hania, menyebabkan banyak korban jiwa. Padahal seharusnya reklamasi merupakan tugas dari perusahaan tambang sesuai amat undang-undang.

“Integritas kuat berpengaruh pada reklamasi dan royalti yang dilaporkan. Banyak royalt yang tidak dilaporkan dan ini sangat merugikan,” pungkasnya.

 

 

Tagar. #SDA #tambang #masyarakat miskin #indeks pembangunan #papua #kemiskinan #lubang tamba #pertambanga #daerah tertinggal

Artikel Lainnya

Kamis, 24 September 2020, 15:04 WIB

Per Agustus 2020, Utang Pemerintah Rp5.594 Triliun

Kenaikan utang itu disebabkan oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan untuk menangani masalah kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19.

selengkapnya
Per Agustus 2020, Utang Pemerintah Rp5.594 Triliun
Anggaran Kemenag 2021 Naik Rp287,8 Miliar

Rabu, 23 September 2020, 15:43 WIB

Anggaran Kemenag 2021 Naik Rp287,8 Miliar