×
×
Kamis, 23 September 2021
OBS 2019
loading content

Hari Anak Nasional: Angka Positif Covid-19, Stunting, dan Pekerja Anak Masih Tinggi

Jumat, 23 Juli 2021, 13:45 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

Hari Anak Nasional:  Angka Positif Covid-19, Stunting, dan Pekerja Anak Masih Tinggi

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Infoanggaran.com, Jakarta  Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati menyoroti persoalan kesehatan anak, mulai dari tingginya anak positif Covid-19, obesitas dan penderita stunting dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2021 pada Jumat (23/7/2021).

“Pekerjaan rumah kita untuk anak-anak Indonesia saat ini bukan hanya Covid-19 yang menyasar anak, tapi juga sederet persoalan klasik yang belum menunjukkan perbaikan hingga kini seperti gizi buruk, pekerja anak, juga termasuk kekerasan terhadap anak,” kata Mufida, Jumat (23/7/2021).

Data Satgas Penanganan Covid-19, 12,6 persen anak-anak di Indonesia positif Covid-19. “Artinya, 1 dari 8 kasus Covid-19 di Indonesia adalah anak-anak,” tuturnya.

Data tersebut dikonfimasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyebut case fatality rate untuk pasien anak 3-5 persen dan paling banyak di dunia. “Ini PR pertama yang prioritas dalam waktu dekat," kata Mufida.

Untuk itu, legislator i i menyarankan gerakan vaksin untuk anak harus terus disosialisasikan lebih masif sebagai salah satu tindakan pencegahan.

Permasalahan kedua yang masih dihadapi anak Indonesia adalah persoalan stunting, obesitas, hingga wasting atau kekurangan nutrisi. Menyitir data Unicef dalam laporan level malnutrisi anak Indonesia 2021, diperkirakan ada 149,2 juta anak-anak mengalami stunting.

Angka itu setara 22 persen anak-anak balita di dunia pada 2020. “Jauh dari target pemerintah yang akan menurunkan hingga 14 persen,” kata dia.

Selain itu, ada 45,4 juta kekurangan nutrisi (wasting). Unicef memprediksi jumlah anak-anak yang terdampak wasting sebetulnya 15 persen lebih banyak akibat Covid-19.

Stunting adalah terganggunya pertumbuhan anak karena kekurangan gizi sehingga tidak tumbuh tinggi secara normal alias pendek. Sementara wasting adalah kondisi tubuh anak yang terlalu kurus karena kekurangan gizi.

“Kemudian, ada juga 38,9 juta anak mengalami kegemukan (overweight) akibat kebanyakan kalori dan kurangnya aktivitas,” ujar Mufida.

Menurut Mufida, masalah klasik ini diperparah sejak pandemi lantaran fungsi Posyandu tidak berjalan normal. Padahal, pemenuhan gizi yang baik adalah bekal daya tahan tubuh.

Menurut Mufida, program ini seharusnya tetap bisa berjalan, bahkan menjadi salah satu program penanggulangan Covid-19 dengan meningkatkan imunitas anak dengan asupan gizi.

Selanjutnya masalah pekerja anak, kata Mufida, juga masih menjadi persoalan. Jumlah pekerja anak di Indonesia mengalami peningkatan dalam kurun waktu tiga tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2017 terdapat 1,2 juta pekerja anak di Indonesia dan meningkat 0,4 juta atau menjadi sekitar 1,6 juta pada 2019.

Lalu, kasus kekerasan terhadap anak juga meningkat sejak pandemi. Kementerian PPPA setidaknya mencatat ada 4.116 kasus kekerasan pada anak, pada periode 1 Januari hingga 31 Juli 2020, yang juga terjadi pada saat pandemi Covid-19.

“Kekerasan ini berupa kekerasan fisik, psikis, seksual, eksploitasi, perdagangan orang dan penelantaran,” tuturnya.

Untuk itu, Mufida menyarankan agar sembari fokus pada persoalan penanganan Covid-19 pada anak, pemerintah bisa membagi fokus untuk mengurangi dampak persoalan anak yang masih menggunung.

“Kita harapkan lintas sektor kementerian bisa membagi fokus agar generasi kita ke depan tidak menjadi lost generation apalagi ditambah pendidikan anak dipertaruhkan dengan sekolah masih tutup,” ujarnya.

 

Dana Perlindungan Anak

Terpisah, Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong pemerintah untuk mempercepat realisasi belanja anggaran penanganan Covid-19 untuk perlindungan anak-anak Indonesia yang terdampak pandemi.

“Anak-anak adalah salah satu kelompok yang paling rentan dalam pandemi ini. Mulai dari mereka yang terinfeksi langsung, ditinggal wafat orang tua, sampai mereka yang belajarnya terganggu karena pandemi,” kata Puan.

Oleh karena itu, Puan meminta pemerintah memberi perhatian khusus terhadap anak-anak lewat serapan anggaran yang digunakan untuk melindungi anak-anak Indonesia dari dampak Covid-19.

“Terlebih jika orang tua mereka adalah salah satu tenaga kesehatan yang gugur karena berjuang di garda terdepan menghadapi pandemi ini,” ucap Puan.

Mantan Menko PMK itu melanjutkan, anggaran negara untuk penanganan Covid-19 memang penting untuk digunakan penanggulangan masalah kesehatan dan ekonomi rakyat terdampak pandemi. Namun, belanja untuk perlindungan anak juga hal yang tak kalah penting.

 

 

Tagar. #Hari Anak Nasional #Anak Positif Covid-19 #DPR RI #stunting #anak indonesia #Kemen PPPA

Artikel Lainnya

Rabu, 22 September 2021, 23:03 WIB

Komisi XI DPR Ragu Core Tax System Efektif Dulang Pajak

Saat ini Kemenkeu sedang mematangkan pembuatan core tax system sebagai upaya dukungan peningkatan potensi penerimaan negara.

selengkapnya
Komisi XI DPR Ragu Core Tax System Efektif Dulang Pajak