×
×
Kamis, 09 Desember 2021
OBS 2019
loading content

Green Lifestyle Ala Susi Pudjiastuti di Masa Pandemi Covid-19

Sabtu, 06 November 2021, 21:56 WIB
Penulis: Maryono
Editor: Jimmy Radjah

Green Lifestyle Ala Susi Pudjiastuti di Masa Pandemi Covid-19

Susi Pudjiastuti memanin tomat di kebunnya. (Instagram Susi Pudjiastuti).

Infoanggaran.com, Jakarta – Selepas masa jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan 2014–2019 usai, gaya hidup Susi Pudjiastuti menjadi lebih ramah lingkungan. Susi cukup serius menerapkan green lifestyle, terutama di masa pandemi Covid-19.

Bukan hanya melakukan kegiatan sehari-hari yang ramah lingkungan, di masa pandemi ini Susi rajin menanam dan merawat tanaman bunga di rumahnya di Pangandaran, Jawa Barat. Dia bahkan turut aktif bercocok tanam buah dan sayuran.

"Saya tanam semangka, tanam tomat, tanam kacang, tanam pare, makanan yang saya suka," ujar Susi, Jumat (5/11/2021).

Hasil panen tanaman, khususnya sayuran, memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan karyawan Susi yang mencapai ratusan orang, kebutuhan mereka masih harus ‘di-supply’ dari pasar.  "Tapi paling tidak untuk rumah saya ber-10 cukup," terang Susi.

Menurut dia, kebiasaan bercocok tanaman bukanlah hal baru. Kesukaan terhadap tanaman adalah hobi lama yang ditularkan oleh ibunya yang seorang petani.  "Ibu saya dulu suka berkebun, ya saya ikuti," kata dia.

Terlebih, aktivitas yang mengharuskan dirinya mondar-mandir mengurus bisnis kesana kemari jauh berkurang di masa pandemi ini. Hal ini membuat salah satu menteri paling populer di kabinet Jokowi 2014-2019 ini jadi punya banyak waktu untuk bercocok tanam.

Bagi Susi, salah satu manfaat bercocok tanam adalah ‘membunuh’ rasa bosan agar tetap bahagia dan rileks di masa pandemi Covid-19. "Bercocok tanam adalah salah satu me time, karena nobody talking to you,” imbuh pemilik Susi Air itu.

Bahkan anak-anak Susi, yaitu Nadin Kaiser dan Alvy Xavier, juga turut terlibat dalam kegiatan yang ramah lingkungan. Mereka bahkan tengah mencanangan bisnis yang mengedepankan lingkungan hidup.

Susi menceritakan, anak-anaknya mau bikin fun and adventure di kawasan Pangandaran.  Ada yang short-term di akhie pekan, ada yang long-term selama seminggu, ada pula yang dua minggu.

"Itu kegiatanannya all include tiket Pangandaran, hotel, makan, sama tanam pohon, mangrove, lalu paddling kemudian hiking, olah raga air,” tutur perempuan kelahiran 1965 itu.

Peran Susi sendiri nanti di program itu adalah menjadi mentor paddling yang notabene olahraga favoritnya. "Mami, karena ini dijual mahal, ada session paddling sama mami. Jadi, saya dikerjain sama anak saya,” kata Susi menirukan permintaan anaknya sambil tertawa.

 

Urban Farming

Selain Susi, ternyata green lifestyle ala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pajak juga cukup ‘kece’. Lembaga di bawah Kementerian Keuangan ini mengembangkan urban farming seluas 5 ribu meter persegi, di antaranya tanaman obat dan pembudidayaan sayuran hidroponik.

Pembangunan urban farming bermula dari banyaknya lahan kosong di area gedung Pusdiklat Pajak di Palmerah, Jakarta Barat, yang luasnya hampir mencapai satu hektare. Selain itu, juga dilatari dari aktivitas peserta magang yang hanya “dijadikan” tukang fotocopy dan antar surat.

"Saya sebut saja fotocopier dan kurier, tapi sebetulnya ini adalah penghinaan terhadap kemanusiaan,” kata Kepala Pusdiklat Pajak Hario Damar.

Akhirnya, urban farming dicetuskan menjadi salah satu internalisasi keahlian yang diberikan kepada peserta magang, termasuk pegawai pemerintah non pegawai negeri (PPNPN), sebagai bentuk pemberdayaan.

Dengan begitu, perserta magang bukan lagi sekadar fotocopier dan kurier lagi. “Kalau mereka punya keahlian yang end to end dari mulai dia beli dari mana sampai jual kemana, dia minimial sudah bisa usaha (ketika selesai magang),” kata Hario.

Saat ini, semua kalangan -- terutama generasi muda, kebanyakan berfokus pada kemajuan teknologi digital. Padahal jika terlalu berfokus terhadap dunia digital saja,  Hario khawatir individualisme di kalangan generasi muda semakin tinggi, serta enggan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Hario tidak ingin generasi muda thanya berfokus terhadap digitalisasi saja, tetapi juga harus melek juga terkait masalah lingkungan dan ikut berpartisipasi aktif dalam penanganannya.

"Penting bagi masyarakat khususnya  generasi muda melatih sensoriknya dan mengembangkan potensi diri seluas-luasnya, serta bersosialisasi membangun komunitas serta jaringan yang bermanfaat terutama bagi lingkungan hidup," kata Hario.

Soal peran generasi muda, Susi Pudjiastuti juga punya harapan. Menurut Susi, generasi muda harus melakukan aksi nyata, bergerak secara aktif, serta mengambil peran untuk menyelamatkan lingkungan hidup.

Dia lalu menekankan pentingnya menjaga lingkungan hidup demi keseimbangan ekosistem, sehingga memberikan dampak ekonomi, sosial, budaya, dan kesehatan manusia.

"Contohnya 68 persen populasi ikan tuna yang ada di dunia berada di Inonesia, tepatnya di Maluku. Mari bersama jaga kebersihan laut, agar kekayaan sumber daya alam tersebut tidak perlahan menghilang," kata dia.

Contoh lainnya adalah pengurangan sampah plastik sekali pakai. "Itu harus dikampanyekan, seluruh pemda (pemerintah daerah) harus buat larangan pemakaian plastik sekali pakai," tegas Susi.

Tagar. #green lifestyle #Susi Pudjiastuti #Menteri Kelautan dan Perikanan 2014-2019 #Ramah Lingkungan #pandemi covid-19

Artikel Lainnya

Kamis, 09 Desember 2021, 21:02 WIB

BPK Sebut Serapan Anggaran PEN Bermasalah, Ini Rinciannya

Salah satunya, pelaksanaan belanja program PC-PEN sebesar Rp9 triliun di 10 kementerian/Lembaga (K/L) tidak memadai.

selengkapnya
BPK Sebut Serapan Anggaran PEN Bermasalah, Ini Rinciannya