×
×
Jumat, 25 Juni 2021
OBS 2019
loading content

Ekonom Sebut Utang BUMN Karya Sudah Lampu Merah

Kamis, 25 Maret 2021, 18:59 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

Ekonom Sebut Utang BUMN Karya Sudah Lampu Merah

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Infoanggaran.com, Jakarta Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Deniey A Purwanto menyebut tren utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meningkat drastis sejak 2016. Bahkan menurutnya, utang sejumlah BUMN Karya telah memasuki kategori lampu merah.

Hal tersebut tercermin dari rasio utang dibandingkan pendapatan kotor dan ekuitas BUMN (debt to equity ratio atau DER) yang mulai mendekati, bahkan ada yang melebihi batas wajar.

“Berdasarkan data Kementerian Keuangan, PT Adhi Karya mencatatkan DER sebanyak 5,76 kali, PT Waskita Karya 3,42 kali, PT PP Properti 2,90 kali. Kemudian, PT Pembangunan Perumahan 2,81 kali, dan PT Wijaya Karya  2,70 kali,” beber Deniey, Rabu (24/3/2021).

Padahal, kata dia, batas wajar DER sendiri adalah 3 hingga 4 kali maksimal.

Hingga saat ini, total utang Adhi Karya sebesar Rp34,9 triliun, Waskita Karya Rp91,76 triliun, PTPP Rp39,7 triliun, dan Wijaya Karya Rp45,2 triliun.

Oleh karena itu, Deniey mengungkapkan bahwa kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius karena telah melampaui batas wajar. "Ini sudah lampu merah untuk segera restrukturisasi utang di BUMN karya," tegasnya.

Selain BUMN karya, perusahaan negara yang juga melebihi dan mendekati batas wajar DER di antaranya Krakatau Steel 6,05 kali,  Garuda Maintenance Facility AeroAsia 4,83 kali, Timah 2,82 kali, dan Jasa Marga 3,26 kali.

 

Komposisi Utang

Lebih lanjut Deniey menjelaskan, jika dilihat dari sisi utang BUMN Karya lainnya seperti Waskita Karya memiliki komposisi yang berbeda. Menurut DIA, Waskita Karya cenderung memiliki utang jangka panjang.

"Sementara 3 BUMN karya lainnya didominasi utang jangka pendek. Tentu saja konsekuensi komposisi utang jangka pendek dan panjang membutuhkan strategi kebijakan yang berbeda," terangnya.

Untuk diketahui, berdasarkan data Statistik Utang Sektor Publik Indonesia (SUSPI) Bank Indonesia, utang BUMN Indonesia per kuartal III 2020 mencapai Rp2.140 triliun.

Dilihat dari jatuh temponya, sejak 2018 utang BUMN lembaga non keuangan meningkat lebih pesat dari lembaga keuangan, mencapai Rp996,49 triliun per kuartal III 2020.

Sementara BUMN keuangan lebih didominasi oleh utang jangka pendek. Namun, untuk BUMN non-keuangan didominasi utang jangka panjang.

Tagar. #Indef #bumn #utang swasta dan BUMN #utang BUMN

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Kamis, 24 Juni 2021, 19:29 WIB

Meski Banyak Usulan, Pemekaran Provinsi Papua Harus Memperhatikan Kearifan Lokal

Pemerintah sudah menangkap aspirasi yang kuat untuk pemekaran Provinsi Papua.

selengkapnya
Meski Banyak Usulan, Pemekaran Provinsi Papua Harus Memperhatikan Kearifan Lokal