×
×
Kamis, 09 Desember 2021
OBS 2019
loading content

Defisit Anggaran Tembus Rp548,9 Triliun, Sri Mulyani Sebut Masih Lebih Baik

Kamis, 25 November 2021, 18:15 WIB
Penulis: Maryono
Editor: Jimmy Radjah

Defisit Anggaran Tembus Rp548,9 Triliun, Sri Mulyani Sebut Masih Lebih Baik

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KITA edisi November 2021. (Youtube Kemenkeu RI).

Infoanggaran.com, Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, defsit anggaran hingga Oktober 2021 mencapai Rp548,9 triliun. Jumlah ini setara 3,29 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Namun kita lihat defisitnya dibandingkan (target defisit dalam) APBN maupun dibandingkan tahun lalu jauh lebih baik,” ujar Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA edisi November 2021, Kamis (25/11/2021).

Menkeu membeberkan, defisit anggaran per Oktober 2021 hanya 54,4 persen dari target dalam APBN yang mencapai Rp1.006,4 triliun. Sementara dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp764,8 triliun, defisit tersebut mengalami penurunan 28,2 persen.

“Ini menunjukkan kesehatan atau tren yang membaik,” jelas dia.

Realisasi defisit bisa ditekan di kisaran 3,29 persen PDB ini tidak lepas dari realisasi belanja negara yang relatif terkendali. Menkeu mengatakan, pertumbuhan belanja negara hanya 0,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp2.041,8 triliun.

“Belanja negara relatif flat,” terang Menkeu.

Berdasarkan data Kemenkeu, realisasi belanja negara hingga Oktober 2021 tercatat sebesar Rp2.058,9 triliun. Serapan anggaran ini setara 74,9 persen dari pagu belanja negara dalam APBN 2021 sebesar Rp2.750 triliun.

Rinciannya, realisasi belanja pemerintah pusat Rp1.416,2 triliun atau 72,7 persen dari pagu yang direalisasikan melalui belanja kementerian/lembaga (K/L) Rp833,1 triliun dan belanja non-K/L Rp583,1 triliun.

Lalu transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp642,6 triliun atau 80,8 persen dari pagu yang disalurkan melalui transfer ke daerah Rp585,3 triliun dan dana desa Rp57,3 triliun.

 

Pendapatan Tumbuh Signifikan

Di sisi lain, realisasi pendapatan negara mengalami capaian yang cukup positif. Hingga Oktober 2021, realisasinya mencapai Rp1.510 triliun atau 86,6 persen dari target sebesar Rp1.743,6 triliun.

Menkeu menyampaikan, capaian pendapatan negara tersebut mengalami pertumbuhan 18,2 persen ketimbang periode Oktober 2020 sebesar Rp1.277 triliun.

“18,2 persen itu lonjakan pendapatan yang cukup tinggi dari penerimaan negara kita,” jelas Sri Mulyani.

Dia mengatakan, semua sektor pendapatan negara mengalami kinerja yang menggembirakan, salah satunya penerimaan pajak yang mencapai Rp1.159,4 triliun. Kendati baru 77,6 persen dari target, penerimaan pajak mengalami pertumbuhan 15,3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lalu realisasi kepabean dan cukai sebesar Rp205,8 triliun atau 95,7 persen dari target. Capaian tersebut mengalami pertumbuhan 25,5 persen dibandingkan Oktober 2020 lalu.

Begitu juga dengan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang tercatat Rp349,2 triliun atau tumbuh 25,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Bahkan realisasi ini sudah  mencapai 117,1 persen dari target sebesar Rp298,2 triliun.

Tidak hanya PNBP, Sri Mulyani juga berharap realisasi sektor penerimaan pajak serta kepabean dan cukai juga bisa menembus di atas 100 persen di akhir 2021 nanti. “Sehingga nanti pendapatan negara bisa melebih Rp1.743,6 triliun seperti yang ada di dalam (target) APBN,” jelas dia.

Sri Mulyani menegaskan, secara keseluruhan postur APBN 2021 mengalami perkembangan yang sesuai harapan, setidaknya hingga Oktober 2021. “Yaitu APBN-nya menjadi lebih sehat, namun tetap bisa menopang, mendorong, dan mendukung pemulihan ekonomi,” pungkas dia.

 

 

Tagar. #Defisit Anggaran #sri mulyani #kemenkeu #belanja negara #pendapatan negara

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Kamis, 09 Desember 2021, 19:55 WIB

Draf RUU TPKS Juga Mengatur Kekerasan Seksual Berbasis Digital

Kekerasan seksual berbasis digital kian sering terjadi akhir-akhir ini.

selengkapnya
Draf RUU TPKS Juga Mengatur Kekerasan Seksual Berbasis Digital