×
×
Kamis, 13 Mei 2021
OBS 2019
loading content

Capai Rp63,6 Triliun, Defisit APBN 2021 Naik 2,8 Persen

Selasa, 23 Maret 2021, 12:19 WIB
Penulis: Maryono
Editor: Jimmy Radjah

Capai Rp63,6 Triliun, Defisit APBN 2021 Naik 2,8 Persen

Ilustrasi. (indoprogress.com)

Infoanggaran.com, Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, defisit anggaran hingga akhir Februari 2021 mencapai Rp63,6 triliun. Realisasi ini sebesar 6,31 persen dari proyeksi defisit APBN 2021 yang mencapai Rp1.006,4 triliun.

Jumlah ini naik sekitar 2,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya Rp61,8 triliun.

“Defisit Rp63,6 triliun ini kalau dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp61,8 triliun, itu terjadi kenaikan 2,8 persen,” ujar Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (23/3/2021).

Kendati begitu, Sri Mulyani mengatakan defisit sebesar Rp63,6 triliun itu hanya 0,36 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang 0,4 persen dari GDP.

Mengacu paparan Menkeu, defisit anggaran mengalami pertumbuhan hingga 2,8 persen lantaran pendapatan negara dan belanja negara timpang, di mana hingga akhir Februari 2021 pendapatan negara tercatat Rp219,2 triliun dan belanja negara Rp282,7 triliun.

 

Tumbuh 0,7 Persen

Kendati tidak mampu menopang kebutuhan belanja negara, Sri Mulyani mengatakan pendapatan negara mengalami pertumbuhan 0,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp217,6 triliun.

“Ini hal yang sangat positif. Kita akan terus menjaga dan memperhatikan perkembangan ini secara hati-hati dan terus akan mendukung dan mengakselerasi pemulihannya,” tukas Sri Mulyani.

Dia menjelaskan, pendapatan negara yang mengalami pertumbuhan positif ditopang oleh peningkatan penerimaan kepabean dan cukai. Di mana realisasinya sebesar Rp35,6 triliun atau tumbuh 42,1 persen.

Sedangkan kontribusi pendapatan negara dari penerimaan perpajakan hanya Rp146,1 triliun atau terkontraksi 4,8 persen dan PNBP Rp37,3 triiun atau terkontraksi 3,7 persen.

Meski mengalami kontraksi, kata Sri Mulyani, “penerimaan pajak dan PNBP secara bulanan masih tumbuh lebih baik.”

Sementara itu, Sri Mulyani memaparkan belanja negara yang mencapai Rp282,7 triliun juga mengalami pertumbuhan 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hingga akhir Februari 2020 lalu, lanjut dia, kita membelanjakan Rp279,4 triliun.”

Menurut Sri Mulyani, realisasi belanja negara yang tumbuh positif dipengaruhi oleh belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp179,7 trilun atau naik 11,1 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Jadi dalam hal ini, untuk belanja pemerintah pusat terjadi kenaikan yang bagus pada Februari 2021,” tukas dia.

Sedangkan kontribusi belanja negara dari TKDD hanya Rp103 triliun atau terkontaksi 12,4 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp117,7 triliun.

“Meskipun demikian, transfer yang langsung ke masyarakat yaitu dana desa mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu Rp3,8 trilun atau 130 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp1,7 triliun,” tandas Menkeu.

 

Tagar. #defisit #belanja negara #pendapatan negara #APBN 2021

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Selasa, 11 Mei 2021, 17:50 WIB

Tata Kelola Pemerintahan Buruk Penyebab Papua Belum Maju

Jika persoalan pemerintahan bisa dibenahi,maka tujuan Otsus dapat tercapai.

selengkapnya
Tata Kelola Pemerintahan  Buruk Penyebab Papua Belum Maju