×
×
Selasa, 18 Januari 2022
OBS 2019
loading content

Alcandra: Butuh Teknologi Penyimpanan yang Memadai Cegah Krisis Energi

Rabu, 12 Januari 2022, 17:39 WIB
Penulis: Maryono
Editor: Jimmy Radjah

Alcandra: Butuh Teknologi Penyimpanan yang Memadai Cegah Krisis Energi

Komisaris Utama PGN Alcandra Tahar. (Youtube Perusahaan Gas Negara)

Infoanggaran.com, Jakarta - Komisaris Utama Perusahaan Gas Negara (PGN) Arcandra Tahar menyampaikan, implementasi transisi energi membutuhkan teknologi penyimpanan energi yang memadai guna mencegah krisis energi seperti yang tengah terjadi di Eropa.

Menurut Arcandra, Eropa hingga masih sangat mengandalkan intermittent renewable energy (energi terbarukan yang digunakan berselang-seling), yaitu angin dan sinar matahari.

Masalahnya, sumber energi matahari dan angin sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Dengan kata lain, pasokan energi matahari akan terhenti jika tidak ada sinar matahari, begitu pula dengan angin.

"Untuk itu diperlukan teknologi storage atau baterai sehingga saat dia mati, dia harus mampu menggantikan energi yang hilang," kata Alcandra dalam acara Energy and Economic Outlook 2022, Rabu (12/1/2021)

Mantan Menteri ESDM itu melanjutkan, sumber energi terbarukan hingga saat ini tidak mampu menghasilkan energi yang memadai di tengah kebutuhan energi yang meningkat akibag pemulihan pascapandemi.

Alhasil, pembangkit listrik batu bara yang telah dipensiunkan pada 2020 terpaksa harus dihidupkan kembali. Demikian pula pasokan gas dari Rusia ke Eropa Barat diharapkan bisa kembali mengalir.

Menurut Alcandra, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan komitmen Eropa untuk bisa mewujudkan net zero emission lebih cepat.

"Kalau mau hidupkan batu bara kembali, target net zero menjadi terganggu," tandas dia.

Geothermal

Alcandra mengatakan, krisis energi di Eropa harus jadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah melakukan transisi energi dari fosil menuju energi bersih.

Alcandra berpendapat, pemanfaatan geothermal atau panas bumi bisa menjadi solusi jitu renewable energy demi mewujudkan net zero emission pada 2060.

"Geothermal bisa berfungsi seperti batu bara yang bisa menghasilkan energi sepanjang waktu. Tidak bergantung pada ada matahari atau tidak, tidak bergantung pada ada angin atau tidak," terang dia.

Hanya saja, sambung dia, ongkos pembangkitan geothermal memang lebih mahal. "Tapi dari sisi kebersihan, suplai yang berkelanjutan, maka salah satu opsinya adalah mengembangkan geothermal."

Kendati begitu, Alcandra mengatakan, pemanfaatan gas bisa menjadi solusi jangka pendek, terutama di masa transisi energi.

Dia lalu merujuk penggunaan gas di Eropa yang terus meningkat meski tengah mengalami krisis energi.

"Gas di Norwegia yang tadinya di-inject ke dalam, sekarang sudah dipakai lagi untuk kebutuhan market. Pipa gas yang dibangun dari Rusia ke Eropa Barat juga dinanti-nantikan untuk bisa on stream," contoh dia.

"Artinya kesempatan kita dalam masa transisi untuk menggunakan gas (lebih tinggi) karena jauh lebih bersih dibandingkan batu bara dan diesel," imbuh Arcanda.

Tagar. #transisi energi #energi hijau #alcandra tahar

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Senin, 17 Januari 2022, 17:00 WIB

ESDM Kantongi PNBP Panas Bumi Rp1,92 Triliun

Capaian tersebut sebesar 134 persen dari target Rp1,43 triliun.

selengkapnya
ESDM Kantongi PNBP Panas Bumi Rp1,92 Triliun
Anggaran PEN 2022 Turun 39 Persen

Senin, 17 Januari 2022, 15:00 WIB

Anggaran PEN 2022 Turun 39 Persen