×
Sabtu, 19 September 2020
loading content

Airlangga Perkirakan Indonesia Terjebak Resesi di Kuartal III 2020

Selasa, 11 Agustus 2020, 14:34 WIB
Penulis: Yenglis Dongche INFO ANGGARAN
Editor: Jimmy Radjah

Airlangga Perkirakan Indonesia Terjebak Resesi di Kuartal III 2020

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Kompas.com).

Infoanggaran.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah terkontraksi 5,32 persen pada kuartal II. Dia memprediksi kontraksi ekonomi akan terus berlanjut sampai akhir 2020.

“Bahkan, Indonesia juga diperkirakan terjebak resesi pada kuartal III 2020,” kata Airlangga dalam webinar “Stimulus Pemerintah untuk Perkuat UMKM”, Selasa (11/8/2020).

Menurut Airlangga, proyeksi ini lebih buruk dari perkiraan sebelumnya bahwa laju pertumbuhan hanya akan perekonomian minus 1 persen pada kuartal III 2020.

Hal ini, kata Airlangga, terutama disebabkan oleh PSBB yang menyebabkan anjloknya konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang utama pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Selain itu, sektor perdagangan dan manufaktur juga berpengaruh karena masing-masing terkontraksi tujuh dan enam persen.

Untuk itu, dia mengatakan pemerintah harus terus berusaha mempercepat penyaluran anggaran penanganan dampak pandemi Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Diketahui, pemerintah menganggarkan dana mencapai Rp695,2 triliun untuk kedua program tersebut. Rinciannya, Rp87,55 triliun untuk kesehatan, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, stimulus UMKM Rp123,46 triliun, sektoral kementerian/lembaga dan pemda Rp106,11 triliun, pembiayaan korporasi Rp53,57 triliun, dan insentif usaha Rp120,61 triliun.

 

Lebih Baik

Kendati demikian, Airlangga juga menjelaskan bahwa kondisi Indonesia sebenarnya masih lebih baik dibandingkan negara lain. Dia mencontohkan Jepang yang minus 8,8 persen, Hong Kong minus 9 persen, Amerika Serikat minus 9,5 persen, Jerman minus 11,7 persen, Uni Eropa minus 15 persen, Perancis minus 19 persen, dan Inggris minus 19,9 persen.

Begitu pula dengan Malaysia minus 8,4 persen, Thailand minus 11,05 persen, Brasil minus 12,3 persen, Singapura minus 12,6 persen, Filipina minus 16,5 persen, dan Argentina minus 16,7 persen.

"Beberapa negara lain termasuk Brasil, Argentina, dan India pun jatuh lebih dalam minus 18,92 persen," jelasnya.

 

Sektor UMKM

Dari sisi ekonomi mikro, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti salah satu upaya untuk bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah dengan cara memperkuat UMKM yang turut terdampak karena Covid-19.

Untuk itu, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus agar bisa membangkitkan kembali perekonomian nasional.

“Pemerintah sudah menyiapkan pinjaman untuk UMKM dengan memberikan subsidi bunga, insentif pajak dan juga kredit modal,” kata Sri.

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bantuan sosial (bansos) sebesar Rp2,4 juta untuk UMKM dan kredit Rp2 juta tanpa bunga untuk usaha mikro. Dana ini direncanakan akan disalurkan pada tanggal 17 Agustus 2020, bertepatan dengan HUT RI ke-75.

Kendati demikian, Sri juga membeberkan salah satu penyebab lambatnya penyaluran dana bansos adalah ketidaklengkapan data, sehingga pemerintah sulit untuk menyalurkan dana bantuan sosial secara cepat dan tepat.

“Kalau kita mempunyai sistem lengkap, by name by dan address number akan lebih mudah. Kelengkapan data ini memang masih sulit karena dalam beberapa hal, seperti tidak ada NIK, tidak terdaftar dalam BPJS,” tutur Sri.

 

Butuh Pendampingan

Menanggapi penjelasan Sri soal UMKM, TM Zakir Machmud, Kepala UKM Center FEB UI mengatakan, UMKM membutuhkan pendampingan agar bisa berjalan dengan baik.

“Tidak bisa satu orang atau satu pihak, UMKM ini memerlukan pendampingan terus menerus. Swasta, pemerintah, masyarakat, media dan lainnya harus bekerja sama,” jelas Zakir.

Selain itu, kata Zakir, juga diperlukan dukungan digital yang memadai untuk mendukung UMKM. Sebab, pada kondisi seperti ini internet atau digital menciptakan hubungan antara UMKM dan customer yang terputus.

Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa melihat kondisi ini dari berbagai aspek dan yang terpenting adalah dalam kondisi seperti ini masyarakat membutuhkan bantuan langsung.

“Dalam situasi ketidakpastian seperti ini, masyarakat butuh dana cash untuk melanjutkan kembali usahanya yang sempat terhenti karena pandemi,” ucapnya.

 

Penulis: Yenglis D

Editor: Jimmy Radjah

Tagar. #resesi ekonomi #airlangga hartarto #ekonomi #sri mulyani #UMKM #pertumbuhan ekonomi #UKM #kemenkeu #kemenko perekonomian

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Sabtu, 19 September 2020, 15:06 WIB

Dikritik Soal Anggaran Covid-19 2021, Ini Jawaban Stafsus Menkeu

Alokasi stimulus turun seiring telah tersedianya banyak sarana/prasarana kesehatan di 2020 yang tetap dapat digunakan di 2021.

selengkapnya
Dikritik Soal Anggaran Covid-19 2021, Ini Jawaban Stafsus Menkeu
Korban Terorisme Bisa Dapat Santunan Negara

Jumat, 18 September 2020, 16:06 WIB

Korban Terorisme Bisa Dapat Santunan Negara