×
×
Sabtu, 28 November 2020
OBS 2019
loading content

54 Persen Angkatan Kerja Indonesia Pernah Mengalami Stunting

Kamis, 27 Agustus 2020, 20:39 WIB
Penulis: Yenglis Dongche
Editor: Jimmy Radjah

54 Persen Angkatan Kerja Indonesia Pernah Mengalami Stunting

Ilutrasi (Foto: Suara.com)

Infoanggaran.com, Jakarta – Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, menurut data Bank Dunia, sekitar 54 persen angkatan kerja Indonesia saat ini pernah mengalami stunting.

“Setidaknya 54 persen atau sekitar 136 juta angkatan kerja sekarang pernah mengalami stunting selama 1.000 hari pertama di kehidupan mereka,” jelas Muhadjir dalam webinar di Jakarta, Kamis (27/8/2020).

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

Salah satu penyebab stunting adalah bahaya merokok. Menurut Muhadjir, kebiasaan merokok adalah jebakan sekaligus penghambat pengembangan sumber daya manusia (SDM).

"Sebenarnya, rokok sudah mulai menyerang upaya kita untuk membangun sumber daya manusia Indonesia sejak masa prenatal," tutur Muhadjir.

Berdasarkan penelitian, orang tua yang merokok (terutama perempuan) akan ikut memaparkan dampak negatif rokok kepada janin, termasuk pada masa kanak-kanak.

Oleh karena itu, dia mengajak agar semua pihak mewaspadai bahaya merokok di lingkungan keluarga. Sebab, anak-anak yang terpapar rokok dalam 1.000 hari pertama masa hidupnya (termasuk dalam kandungan dan dua tahun masa disusui), sangat rentan terkena stunting.

Untuk itu, Kemenko PMK sangat berkepentingan menekan, mengurangi, bahkan jika bisa menghilangkan jumlah perokok di Indonesia, terutama pada anak-anak. Sebab, SDM yang pernah mengalami stunting sulit untuk ditingkatkan kualitasnya.

 

Sebabkan Kesenjangan Sosial

Selain menghambat pengembangan SDM, Muhadjir juga menyebutkan kalau merokok dapat menyebabkan jurang kesenjangan sosial semakin tinggi antar kelas masyarakat di Indonesia.

Faktanya, jumlah perokok terbanyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Sementara yang menikmati hasilnya adalah kaum menengah ke atas. "Siapa coba yang diuntungkan?” tuturnya.

Selain itu, rokok juga menjadi salah satu penyebab masalah dalam keluarga, termasuk ekonomi. Biasanya yang perokok memang laki-laki, sehingga pemerintah saat ini memberikan bantuan sosial dan bantuan lainnya diutamakan ke perempuan. Tujuannya agar tidak digunakan untuk membeli rokok.

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa prevelensi perokok perempuan juga meningkat sangat singifikan selama beberapa tahun terakhir.

Senada, peneliti pada Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) Teguh Dartanto membeberkan, hasil penelitian pihaknya menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian bansos dengan peningkatan konsusmsi rokok.

“Kita menemukan pola bahwa dengan adanya bansos ternyata meningkatkan konsumsi rokok juga,” kata Teguh.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar masyarakat tidak menggunakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah secara tidak bijak, apalagi membeli rokok.

 

Lebih Banyak Buntung

Berkenaan dengan cukai rokok, Menko PMK Muhadjir Effendy menjelaskan, keuntungan yang didapatkan oleh pemerintah dari cukai rokok ternyata tidak seimbang dengan dana yang harus dikeluarkan untuk menangani dampak yang disebabkan oleh rokok itu sendiri.

“Jadi, ini sangat sulit jika kita masih menganggap rokok sebagai penyumbang cukai besar,” katanya.

Lebih lanjut kata Muhadjir, mungkin kalau nilai uangnya bisa dianggap sebanding, tetapi risiko kerusakan pembangunan manusianya tidak bisa dibayar dalam jangka panjang.

Itu sebabnya dia meminta masyarakat menjaga agar anak-anak tidak menjadi perokok di usia dini.

 

Rokok Eeletrik vs Konvensional

Masih berkaitan dengan bahaya merokok, Teguh Dartanto membeberkan, ternyata menurut penelitian yang dilakukan pihaknya, dampak rokok elektrik dan konvensional sama saja.

“Tidak ada bedanya. Tidak perlu beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik. Lebih baik berhenti merokok saja,” ungkap Teguh.

Untuk perokok anak, Indonesia memang sering menjadi sorotan dunia. Sebab, merokok sangat adiktif sehingga sangat sulit bagi mereka untuk berhenti. Selain itu, tingkat konsumsinya biasanya akan semakin tinggi.

Menurut Teguh, perilaku merokok disebabkan faktor internal dan eksternal atau lingkungan, termasuk juga faktor harga rokok.

Berdasarkan penelitian, efek pengaruh teman sebaya dan harga rokok berpengaruh terhadap peningkatan jumlah perokok anak. Sementara, harga rokok juga sangat berpengaruh terhadap perilaku merokok anak.

Karena itu, pihaknya berharap perlu ada tindakan seperti kampanye anti rokok di sekolah dan edukasi bahaya rokok serta penghentian iklan rokok.

Tagar. #indeks pembangunan #kemenko pmk #cukai rokok #Muhadjir Effendy #tenaga kerja

Berita Terkait
Artikel Lainnya

Jumat, 27 November 2020, 19:26 WIB

Serapan APBD Sulsel Baru 55,45 Persen, Rp4,9 T Dana Mengendap di Kas Daerah

Banyak program yang tidak terlaksana karena fokus pada penanganan pandemi Covid-19.

selengkapnya
Serapan APBD Sulsel Baru 55,45 Persen, Rp4,9 T Dana Mengendap di Kas Daerah
Sejumlah Proyek Strategis Dipangkas, Ini Alasannya

Jumat, 27 November 2020, 17:12 WIB

Sejumlah Proyek Strategis Dipangkas, Ini Alasannya