A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: ub

Filename: helpers/apps_helper.php

Line Number: 692

Backtrace:

File: /home/infw6134/public_html/application/helpers/apps_helper.php
Line: 692
Function: _error_handler

File: /home/infw6134/public_html/application/controllers/Detail.php
Line: 208
Function: getBrowser

File: /home/infw6134/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: ub

Filename: helpers/apps_helper.php

Line Number: 703

Backtrace:

File: /home/infw6134/public_html/application/helpers/apps_helper.php
Line: 703
Function: _error_handler

File: /home/infw6134/public_html/application/controllers/Detail.php
Line: 208
Function: getBrowser

File: /home/infw6134/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Dinilai Kurang Berdialog, Guru Sebut Nadiem Makarim 'Menteri Pendidikan Jarak Jauh'
×
Selasa, 11 Agustus 2020
loading content

Dinilai Kurang Berdialog, Guru Sebut Nadiem Makarim 'Menteri Pendidikan Jarak Jauh'

Rabu, 29 Juli 2020, 19:19 WIB
Penulis: Redaksi
Editor: Yenglis Dongche

Dinilai Kurang Berdialog, Guru Sebut Nadiem Makarim 'Menteri Pendidikan Jarak Jauh'

Mendikbud Nadiem Makarim (Foto: Kompas.com)

Infoanggaran.com, Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriawan Salim menyindir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sebagai  'menteri pendidikan jarak jauh' selama masa pandemi Covid-19.

Pasalnya, komunikasi Mendikbud dianggap sangat kurang, terutama kepada para pengajar.

“Pendidikan itu harus ada komunikasi dua arah, bukan pendidikan namanya jika hanya satu arah. Ini yang harus diperhatikan oleh Mas Menteri,” ujar Satriawan dalam webinar “Mengukur Integritas Program Organisasi Penggerak (POP) Kemdikbud”, Rabu (29/7/2020).

Menurut Satriawan, generasi sekarang ini adalah milenial dengan gaya komunikasi lebih terbuka dan ada dialog. Dia mencontohkan, Mendikbud selama ini hanya membuat video sebagai bentuk klarifikasi, tetapi tidak membuka dialog dengan para guru.

Hal ini, kata Satriawan, memperkuat kesan bahwa Nadiem menutup dan membatasi diri. Padahal, pendidikan itu harus terjadi dua arah, bukan seperti selama ini, menteri hanya memberikan arahan melalui media dan tidak turun langsung ke lapangan.

Senada, Wasekum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Achmad Zuhri menyatakan, Kemendikbud saat ini kurang bisa menjalin silaturahim yang baik dengan organisasi guru. Akibatnya, dalam implementasi kebijakan dan program pendidikan di lapangan, banyak terjadi ketidaksesuaian, sebab setiap orang menafsirkannya secara berbeda.

“Jadi saya kira komunikasi harus diperbaiki. Marwah bangsa ini ada pada guru, sehingga harus lebih diperhatikan,” ucap Zuhri.

Lebih lanjut Zuhri menilai, sejauh ini komunikasi yang dilakukan oleh Mendikbud masih sekadar basa-basi atau retorika, belum ada langkah nyata untuk memperbaiki pola komunikasi yang dilakukan.

Untuk itu Zuhri menyarankan agar Mendikbud jangan anti kritik dan langsung turun ke lapangan untuk mendengarkan masyarakat, khususnya para guru. Sebab, jika hanya membuat video dan disampaikan kepada semua orang, tetapi tanpa tindakan nyata tidak akan mengubah banyak hal.

 

Jangan Diseragamkan

Akibat kurangnya komunikasi tersebut, Satriawan Salim menyoroti dari sisi pelatihan guru yang dinilai kurang tepat sasaran. Menurut pihaknya, seharusnya pelatihan guru se-Indonesia tidak bisa diseragamkan sebagaimana dilakukan selama ini. Sebab, kebutuhan dan kondisi di setiap daerah berbeda-beda.

“Misalnya saja, di Papua kebutuhan pelatihan guru tidak sama dengan di Jawa. Cukup pakaian siswa yang seragam, bukan pelatihan gurunya,” tegas Satriawan.

Sebagai contoh sederhana, sekolah yang berbasis agama seperti Pesantren dan sekolah Katolik, gurunya sudah tidak membutuhkan pelatihan mengenai pendidikan karakter. Karena siswa mereka sudah patuh kepada Kyai dan Pastor. Tetapi, sekolah umum kemungkinan besar masih membutuhkan hal tersebut.

Untuk itu, dia mendorong agar pendekatan yang dilakukan oleh Kemdikbud seharusnya dilakukan dengan pendekatan sosial dan budaya, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah.

 

Pentingnya Pengawasan

Mengenai Program Organisasi Penggerak (POP) yang dirancang oleh Kemdikbud, Achmad Zuhri menilai Mendikbud harus berhati-hati dalam pembuat kebijakan.

“Ketika Mendikbud salah memilih kebijakan, jutaan orang akan ikut terdampak,” tuturnya.

Sementara Satriawan Salim menyarankan agar POP ditunda saja dan dananya dialokasikan untuk kegiatan yang lebih penting dan mendesak selama masa pandemi Covid-19. “Dialokasikan untuk PJJ saja, untuk membantu anak-anak dan guru-guru honorer,” katanya.

Hal itu lantaran POP dinilai kurang efektif untuk dilaksanakan, terutama pada pandemi ini.

 

Penulis: Yenglis D

Editor: Jimmy Radjah

Tagar. #mendikbud #kemendikbud #pendidikan jarak jauh #pembelajaran jarak jauh #guru #pendidikan #program organisasi penggerak

Artikel Lainnya

Selasa, 11 Agustus 2020, 14:34 WIB

Airlangga Perkirakan Indonesia Terjebak Resesi di Kuartal III 2020

Proyeksi ini lebih buruk dari perkiraan sebelumnya di mana laju pertumbuhan diprediksi hanya akan perekonomian minus 1 persen pada kuartal III 2020.

selengkapnya
Airlangga Perkirakan Indonesia Terjebak Resesi di Kuartal III 2020
Subsidi Upah Rp2,4 Juta Bisa Timbulkan Kecemburuan

Selasa, 11 Agustus 2020, 12:45 WIB

Subsidi Upah Rp2,4 Juta Bisa Timbulkan Kecemburuan