Ilustrasi (Foto: suara.com)

Oleh:  Yenglis Dongche   23-06-2020 14:00 WIB

Infoanggaran.com, Jakarta – Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengklaim riset dan promosi inovasi sangat berkembang pesat selama masa pandemi Covid-19. Pemberlakuan new normal ternyata juga mengubah pola interaksi masyarakat, yang kian memiliki kesadaran untuk memanfaatkan teknologi agar tetap produktif dari sisi ekonomi.

"Setidaknya ada sepuluh tren teknologi untuk bahan riset dan pengembangan lebih dalam untuk less contact society," kata Bambang dalam Katadata Forum Virtual Series bertajuk 'Penanggulangan Covid-19 Berbasis Pengetahuan dan Inovasi', Senin (22/6/2020).

Bambang lantas merinci sepuluh perubahan teknologi tersebut, yang pada intinya perubahan kegiatan offline menjadi online.

Tren pertama adalah perkembangan belanja secara online. Kedua, pembayaran digital akan semakin pesat. Ketiga, teleworking atau kerja dari rumah yang marak dilakukan akan menghasilkan teknologi pendukung.

Keempat, dari sisi kesehatan, masyarakat akan lebih mengandalkan telemedicine atau pemakaian aplikasi layanan kedokteran digital akan semakin dibutuhkan untuk menghindari kontak langsung. Kelima, tele-education dan pelatihan online selama pandemi covid-19 juga akan diminati.

 

Baca juga: Fokus BUMN Tidak Jelas: Ekonomi Atau Pelayanan Publik?

 

Sementara poin keenam, teknologi hiburan seperti film dan lagu daring menjadi tren usai pandemi.

Ketujuh, rantai pasok industri inti 4.0 untuk manufaktur. "Contohnya seperti big data, cloud computing, Internet of Things (IoT) akan lebih menjadi perhatian," jelas Bambang.

Sektor ke-8, kata Bambang, adalah percetakan tiga dimensi (3D) yang belum luas digunakan di Indonesia juga berpotensi menjadi tren. Kesembilan, robot dan drone akan menjadi andalan untuk membantu mengurangi interaksi dan pekerjaan manusia.

"Jadi tugas manusia yang berbahaya digantikan robot dan drone," ujar Bambang. Terakhir adalah penopang utama teknologi yakni 5G.

Bambang mengatakan seluruh tren ini akan mengakibatkan hubungan antar manusia akan berbeda di masa depan.

 

Pengembangan Riset

Lebih lanjut Bambang mengatakan, kemampuan peneliti dan perekayasa dalam negeri sudah sangat mumpuni. Tetapi masalahnya adalah mereka tidak diminta untuk membuat inovasi terkait riset dan teknologi.

"Jadi memang belum ada keberpihakan kepada 'inovasi Indonesia' karena kita sudah terbiasa dengan kebiasaan impor," tutur Bambang.

Selain itu, ia menjelaskan salah satu alasannya ingin mengembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) karena ada birokrasi di dalam penelitian yang dibuat oleh suatu badan penelitian atau peneliti itu sendiri.

"Kemudian kita dalami lagi kenapa Triple Helix enggak jalan, pemerintahnya terlalu birokratis ya. Kalau saya mau jujur, kenapa saya mau mengembangkan BRIN, saya melihat birokrasi dengan penelitian itu tidak nyambung karena lain dimensi dan tujuannya," tandasnya.

 

Inovasi Pelayanan Publik

Dari sisi tata kelola, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo mengatakan, selama masa pandemi pelayanan harus terus produktif dan inovatif.

“Selama pandemi, yang terutama adalah mempercepat perizinan dan pelayanan kepada masyarakat, terutama bagi yang terdampak,” jelas Bambang.

Selain itu, kualitas Aparatur Sipil Negara (ASN) juga harus berubah dan beradaptasi dengan cara kerja produktif dan inovatif, sesuai dengan visi misi presiden untuk menyederhanakan birokrasi.

Dari total 4,3 juta ASN di negara ini, 70 persen di antaranya bekerja di bidang administratif.

 

Belum Maksimal

Kemudian, kata Tjahjo, yang terpenting adalah daerah dapat mengembangkan inovasi, meski hingga saat ini belum bisa menjangkau 512 kabupaten dan kota.

“Dari total 512 kabupaten dan kota, baru sekitar 10 persen yang sudah mengembangkan inovasi pelayanan publik, misalnya Bandung,” kata Tjahjo.

Setidaknya ada tiga kategori yang harus dikembangkan dari sisi inovasi. Pertama, respons cepat dan tanggap. Kedua, pengetahuan publik, yaitu inovasi yang dibuat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Ketiga, kepanduan massal atau mitigasi untuk menanggapi kegawatdaruratan dalam menghadapi pandemi.

 

Baca juga: Pelayanan Publik Tetap Berjalan di Tengah Wabah Corona

 

Secara jujur, Tjahjo mengakui layanan kesehatan baru mencapai 20 persen untuk menghadapi pandemi ini. Padahal dalam menghadapi pandemi seperti sekarang, sekecil apapun inovasi akan sangat penting penting.

“Karena itu, seluruh lembaga riset, baik itu LIPI, perguruan tinggi, maupun lembaga-lembaga riset di daerah, harus bekerja sama untuk menciptakan inovasi yang baik,” tegas Tjahjo.

Salah satu faktor penghambatnya, tutur eks Mendagri ini, adalah masih tingginya ego sektoral, bahkan untuk sekadar membuat data yang terintegrasi masih sangat susah. Misalnya, data dana bansos yang hingga kini masih karut marut.

 

Penulis: Yenglis D

Editor: Jimmy Radjah









Info-Anggaran Info-Anggaran Info-Anggaran Info-Anggaran Info-Anggaran Info-Anggaran



Info-Anggaran Berita

  26-06-2020 12:00 WIB

BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Masih Positif




Info-Anggaran Berita

  25-06-2020 14:02 WIB

Pemerintah Harus Umumkan Penggunaan Anggaran Covid-19 Secara Berkala




Info-Anggaran Berita

  23-06-2020 14:00 WIB

Riset dan Teknologi Berkembang Akibat Pandemi Covid-19




Info-Anggaran Berita

  19-06-2020 12:00 WIB

43,8 Persen Masyarakat Tidak Yakin Kartu Prakerja Efektif




Info-Anggaran Berita

  18-06-2020 10:45 WIB

Postur APBN 2020 Bakal Alami Bongkar Pasang Lagi




Info-Anggaran Berita

  16-06-2020 18:00 WIB

Penerimaan Pajak, Impor dan Ekspor Anjlok Akibat Covid-19




Info-Anggaran Berita

  16-06-2020 15:00 WIB

APBN Kuartal II 2020 Defisit Rp179,6 Triliun







   TENTANG KAMI |   KARIER |  IKLAN | HUBUNGI KAMI |    DISCLAIMER



©2019 Info Anggaran. Hak cipta dilindungi Undang-undang.Kebijakan Privasi